Tema 12

Nabi IBRAHIM DAN NABI ISMAIL

KISAH KETELADANAN NABI IBRAHIM A.S. DAN NABI ISMAIL A.S.

1. Tujuan Pembelajaran:

  • Peserta didik dapat memahami dan mencontoh keteladanan Nabi Ibrahim a.s.

  • Peserta didik dapat memahami dan mencontoh keteladanan Nabi Ismail a.s.

2. Materi Pembelajaran:

A. KISAH KETELADANAN NABI IBRAHIM A.S.

Profil Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim lahir di Babilonia (sekarang Irak). Ayahnya bernama Azar bin Nahur. Kala itu Babilonia dipimpin oleh seorang raja yang sangat zalim, yaitu Namrud bin Kan’an bin Kush. Babilonia adalah negeri yang kaya. Rakyatnya hidup makmur, namun mereka tidak mengenal Allah Subhanahu wata’ala Penduduk Babilonia justru menyembah patung. Lucunya patung-patung itu dibuat oleh mereka sendiri.

Anak Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim memiliki anak bernama Ismail dan Ishaq. Antara Ismail dan Ishaq berbeda ibu, tetapi ayahnya tetap Ibrahim. Ibunda Ismail bernama Hajar dan Ibunda Ishaq bernama Sarah. Menurut riwayat, keturunan Nabi Ishaq menurunkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam menurunkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Oleh karena itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dikenal sebagai Bapak para Nabi.

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim sejak kecil hidup di lingkungan yang penuh kemusyrikan dan kekufuran. Beliau dibesarkan oleh seorang ayah yang tidak seiman dengannya. Ayah Ibrahim ahli dalam memahat patung. Patung-patung ini dijual kepada penduduk Babilonia. Patung-patung itulah yang kemudian dijadikan sesembahan. Ayah Ibrahim menyuruh Ibrahim untuk menjual patung-patung itu, tetapi berkat bimbingan Allah Subhanahu wata’ala Ibrahim dengan halus menolak perintah ayahnya. Menurut Ibrahim, kebiasaan penduduk Babilonia, termasuk ayahnya sendiri keliru. Satu-satunya cara menyadarkan penduduk Babilonia kembali ke jalan yang benar adalah menyadarkan atas kelemahan patung sebagai sesembahan. Hanya Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang berhak disembah.

Dialah pencipta alam semesta beserta isinya, patung-patung itu tidak dapat membela dirinya sendiri, apalagi membela kawannya.

Mencari Tuhan yang Sebenarnya

Masyarakat Babilonia sudah lama sebagai penyembah bintang-bintang dan patung-patung. Ibrahim terus berusaha mencari kebenaran agama yang dianut oleh keluarganya. Ketika malam telah gelap, Ibrahim menyaksikan sebuah bintang. Dia sempat berpikir bahwa bintang itu Tuhannya, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah Tuhanku". Setelah bulan itu terbenam, dia berkata, "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat". Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan". "Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan".

Inilah yang dianugerahkan Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam menolak agama yang dipercayai kaumnya serta menerima Tuhan yang sebenarnya.

Menyaksikan Kekuasaan Allah

Dalam al-Qur’ansurat al-Baqarah ayat 260 dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala memohon supaya diperkenankan melihat kekuasaan-Nya. “Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk yang sudah mati”, demikian suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa. Keinginan itu dikabulkan. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala menyuruh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menangkap empat ekor burung. Setiap burung diberi tanda. Selanjutnya burung itu dicincang. Bagian-bagiannya dicampur satu sama lain. Potongan tubuh keempat burung itu dibawa. Lalu, diletakkan di puncak empat buah bukit. Keempat bukit itu letaknya berjauhan satu sama lain. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memanggil burung-burung itu. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala burung-burung itu hidup kembali. Semuanya utuh seperti sediakala.

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tak ada yang sanggup menghalangi kehendak-Nya. Hanya dengan kata kun(jadilah), maka yang dikehendaki-Nya pasti terbukti. Allah Mahakuasa, menghidupkan yang mati sangatlah mudah bagi-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah melihatnya sendiri. Hatinya semakin mantap, keyakinannya semakin kuat, keimanannya semakin hebat.

Berdakwah kepada Ayahnya

Azar tidak hanya pembuat patung, tetapi ia juga menyembah patung. Sebelum berdakwah kepada penduduk Babilonia, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam harus menyadarkan dulu ayahnya. Berdakwah kepada ayahnya tidaklah mudah, karena ayahnya tetap bersikukuh dengan keyakinannya. Usaha Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sudah maksimal, namun Allah Subhanahu wata’ala yang menentukan. Sebagai anak, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sangat ingin menyelamatkan ayahnya. Sikap ayahnya yang menolak ajaran Allah Subhanahu wata’ala tidak membuat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam larut dalam kesedihan. Sikapnya tetap teguh untuk menyebarkan pesan-pesan Allah Subhanahu wata’ala

Raja Namrud yang Zalim

Raja Namrud memerintah dengan kejam. Semua orang harus taat, tidak boleh melawannya. Bila ada yang berani melawan, nyawa taruhannya. Rakyat hidup bagaikan budak. Keadaan itu tidak membuat Namrud puas. Ia merasa dirinya layak disembah. Ia ingin dipertuhankan. Ia berpikir, rakyat pasti mau menyembahnya. Patung-patung yang tak bernyawa saja disembah, apalagi raja yang sangat berkuasa.

Menunjukkan Kelemahan Patung

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdakwah tak kenal lelah, tetapi penduduk Babilonia menolak keras. Mereka tetap pada keyakinannya menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri. Namun Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak kehilangan akal. Ada rencana lain, barangkali penduduk Babilonia memerlukan bukti. Orang-orang Babilonia mempunyai suatu tradisi, yaitu setiap tahun mereka pergi meninggalkan negerinya. Sewaktu raja Namrud dan kaumnya meninggalkan negeri, kampung mereka ditinggalkan kosong. Kesempatan itu dipergunakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menghancurkan patung-patung Raja Namrud dan kaumnya. Dengan kapak yang telah dipersiapkan, mulailah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menghancurkan patung-patung itu satu persatu. Hanya satu patung yang paling besar tidak dihancurkan. Lalu kapak yang dipergunakan menghancurkan patung-patung itu dikalungkan di leher patung yang paling besar tadi.

Nabi Ibrahim dibakar

Ketika Raja Namrud dan kaumnya datang ke pusat pemujaan, betapa terkejutnya mereka semua, karena patung-patung sembahan mereka hancur. Maka tak pelak lagi, Ibrahimlah yang dituduh. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akhirnya dipanggil dan diadili.

Raja Namrud bertanya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, “Apakah kamu yang menghancurkan patung-patung sesembahan kami?”

“Aku pikir barangkali berhala besar itulah yang melakukannya. Bukankah kapak yang ada di lehernya yang membuktikan perbuatannya?” kata Ibrahim.

“Mana mungkin berhala bisa berbuat seperti itu!” kata Namrud.

“Kalau begitu mengapa engkau sembah patung yang tidak bisa berbuat apa-apa?”, kata Ibrahim.

Mendengar pernyataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu, orang-orang yang menyaksikan banyak yang sadar. Selama ini mereka telah menyembah patung-patung yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bicara. Melihat keadaan demikian raja Namrud semakin murka.

Raja Namrud akhirnya memutuskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam harus dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup. Setelah kayu bakar dikumpulkan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diikat dan dilempar dengan alat pelontar yang membara. Api menjalar mendekati Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan tetapi, ia tetap tenang. Hatinya bertawakal, ia yakin Allah Subhanahu wata’ala tak akan membiarkannya. Allah Subhanahu wata’ala pasti menolong orang yang berjuang di jalan-Nya.

Ketika api menyala semakin besar, Raja Namrud dan pengikutnya tertawa riang. Mereka menyangka bahwa Ibrahim telah hancur menjadi abu. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka, melihat keajaiban yang tidak disangka-sangka. Setelah api padam Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tiba-tiba berjalan keluar dari puing-puing pembakaran api dengan selamat tanpa luka sedikit pun. Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan kekuasaan dan kasih sayangnya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kaumnya.

B. KISAH KETELADANAN NABI ISMAIL A.S.

Keluarga Nabi Ismail a.s.

Setelah berdakwah di Babilonia dan beberapa lama tinggal di Mesir, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermaksud pindah ke Palestina bersama istrinya. Karena lama tidak memiliki anak, kemudian beliau berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar dikarunia anak yang saleh. Berkat doa itu, maka Ibrahim dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ismail. Ibu Nabi ismail ‘alaihissalam bernama Hajar.

Hijrah ke Mekah

Dengan penuh bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh, tibalah pada akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama istri dan anaknya Ismail di Mekkah. Di Kota itu, Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihissalam dan menjadi kiblat manusia dari seluruh dunia. Di tempat itu Masjidil Haram sekarang berada.

Ditinggal di Tempat yang Gersang

Lelah masih belum hilang. Perintah Allah Subhanahu wata’ala sudah datang kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Di Mekkah, Hajar dan Ismail harus ditinggalkan, padahal tempat itu sangat gersang, tak ada air dan tanaman yang subur. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengatakan kepada istrinya bahwa ini adalah kehendak Allah Subhanahu wata’ala dan harus bertawakal kepada-Nya. Hajar berkata, “Ke manakah Engkau akan pergi? Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan hal ini?”. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, “Benar, Allah-lah yang menyuruh kita ke sini. Percayalah Allah Maha Penyayang, tidak mungkin menelantarkan kalian”

Air Zam-Zam

Hajar mematuhi perintah Ibrahim dengan sabar. Ia makan dari bekalnya dan minum dari air yang ditinggalkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sampai habis. Beberapa hari kemudian persediaan bekal sudah habis. Tak ada lagi makanan dan minuman. Hajar kebingungan, kemana ia harus mencari makanan. Kebingungan bertambah manakala terdengar tangisan Ismail kehausan. "Hajar melirik ke kanan dan ke kiri, pandangannya ke sana kemari mencari air. Begitu gigihnya Hajar, ia berlari menuju bukit Safa barangkali bisa mendapatkan air, ternyata tidak ada air sedikit pun. Kemudian ia pun berlari-lari kepayahan sampai tiba di suatu tempat lain yang bernama Marwah, di sana pun tidak ada air. Kejadian itu sampai berulang-ulang, bolak-balik sebanyak tujuh kali ia berlari antara bukit Safa dan Marwah. Diriwayatkan bahwa Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya dan hampir berputus asa. Namun pertolongan Allah Subhanahu wata’ala datang kepadanya. Atas kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala melalui Malaikat Jibril keluarlah mata air Zam-zam. Air itu dapat memenuhi keperluannya sehari-hari.

Pengorbanan Nabi Ismail a.s.

Nabi Ismail ‘alaihissalam adalah anak yang patuh dan taat pada perintah Allah Subhanahu wata’ala serta hormat kepada orangtuanya. Ketaatan dan kepatuhan Nabi Ismail ‘alaihissalam diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala Ketika Nabi Ismail ‘alaihissalam menginjak usia remaja, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Hajar diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala Peristiwa ini dijelaskan dalam al-Qur’an surat as-Shaffat ayat 102-111, yaitu:

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (ayat 102)

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya )". (ayat 103)

"Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik". ( ayat 104-105)

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata". (ayat 106)

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (ayat 107)

(Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail ‘alaihissalam maka Allah Subhanahu wata’ala melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan kurban, Allah Subhanahu wata’ala menggantinya dengan seekor kambing. Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya kurban yang dilakukan pada hari Raya Haji).

"Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (ayat 108-109)

"Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik". (ayat 110)

"Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman". (ayat 111)

Dan inilah asal permulaan sunah berkurban yang dilakukan oleh umat Islam pada setiap hari raya Idul Adha tanggal 10 Zulhijjah.

Membangun Ka'bah

Pada satu ketika, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menerima wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala agar membangun Ka’bah. Hal itu disampaikan kepada anaknya. Nabi Ismail ‘alaihissalam berkata, “Kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu dan aku akan membantumu dalam pekerjaan mulia itu”. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah

Ayat 127: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Mulailah keduanya membangun Ka’bah hingga selesai dan tempat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdiri ketika itu dikenal dengan Maqam Ibrahim. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memberi wasiat kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam untuk membersihkan Ka’bah dari kotoran, perbuatan syirik dan penyembahan berhala untuk orang-orang yang tawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud.