Tema 6

Nabi YUSUF DAN NABI SYU'AIB

KISAH KETELADANAN NABI YUSUF A.S. DAN NABI SYU'AIB A.S.

1. Tujuan Pembelajaran:

  • Peserta didik dapat memahami dan mencontoh keteladanan Nabi Yusuf a.s.

  • Peserta didik dapat memahami dan mencontoh keteladanan Nabi Syu'aib a.s.

2. Materi Pembelajaran:

A. KISAH KETELADANAN NABI YUSUF A.S.

Nabi Yusuf a.s. Bermimpi

Allah Swt. memberikan kedudukan yang mulia kepada Nabi Yusuf a.s.. Nabi Yusuf a.s. juga diberi ilmu berupa tafsir mimpi. Nabi Yusuf a.s. adalah putra Nabi Ya’qub a.s. Suatu hari, Yusuf bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, semuanya bersujud kepadanya. Yusuf kemudian menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Dengan mimpi itu, ayahnya mempunyai firasat bahwa Yusuf kelak akan mendapat kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.

Nabi Yusuf a.s. Diajak Pergi Bermain untuk Dicelakai

Saudara-saudara Yusuf mengajak Yusuf bermain-main di hutan. Mereka merencanakan untuk membunuh Yusuf. Salah satu kakak Yusuf berpendapat agar jangan membunuh Yusuf, tetapi membuangnya saja ke dalam sumur. Saudara-saudara Yusuf kemudian pulang dan berkata pada ayah mereka bahwa Yusuf dimakan serigala. Baju Nabi Yusuf disobek dan dilumuri darah serigala untuk meyakinkan peristiwa tersebut. Mendengar kebohongan mereka ayah Nabi Yusuf bersedih dan menangis sampai matanya buta.

Nabi Yusuf a.s. Diselamatkan Sudagar/Pedagang

Tidak lama kemudian, ada saudagar yang melewati sumur itu dan mampir untuk mengambil air. Ketika menurunkan timbanya, Nabi Yusuf a.s. berpegangan pada timba dan ikut ditarik ke atas. Saudagar itu kemudian menjual Yusuf di pasar sebagai budak. Pembelinya adalah penguasa di negeri itu seorang Perdana Menteri yang bernama Qitfir. Sang pembeli meminta kepada isterinya, Zulaikha, agar memperlakukan Yusuf dengan baik.

Nabi Yusuf a.s. Masuk Penjara

Nabi Yusuf pernah terkena fitnah (perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang) sehingga dimasukkan ke dalam penjara. Di penjara, beliau bertemu dua orang pelayan raja yang bekerja sebagai pembuat minuman dan pembuat roti. Keduanya, dipenjara karena dituduh hendak meracuni sang raja. Kedua pelayan itu bermimpi hal yang berbeda. Pelayan pembuat minuman bermimpi memeras anggur. Pelayan pembuat roti bermimpi membawa roti di atas kepalanya. Kemudian, datang burung memakan roti itu.


Nabi Yusuf menakwil (menafsir) mimpi kedua pelayan itu. Menurut Nabi Yusuf pembuat minuman akan dibebaskan dari penjara. Pembuat roti akan dihukum salib dan burung-burung akan mematuk kepalanya. Apa yang dikatakan Nabi Yusuf menjadi kenyataan.

Nabi Yusuf a.s. Menakwilkan Mimpi Raja

Pada suatu hari, Raja bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum lainnya yang kering. Raja segera mengumpulkan para penasihat untuk menjelaskan makna mimpinya. Namun, tak seorang pun bisa menjelaskan makna mimpi itu.

Singkat cerita Yusuf mendapat kesempatan menjelaskan kepada Raja, “Hendaklah kalian bercocok tanam tujuh tahun berturut-turut. Kemudian, ketika kalian panen, hendaklah menyimpan makanan dengan cara membiarkan tangkainya kecuali sedikit untuk dimakan. Sebab, setelah tujuh tahun itu, akan datang tujuh tahun kemudian masa yang amat sulit. Pada masa sulit tersebut, kalian akan menghabiskan simpanan makanan sebelumnya. Setelah itu, akan datang tahun di mana manusia diberi hujan dengan cukup dan mereka memeras anggur.”

Raja tertegun dengan penjelasan Yusuf yang masuk akal. Kemudian, Raja mengangkat Yusuf sebagai pejabat negara urusan pangan.

Nabi Yusuf a.s. Menjadi Pejabat

Mulailah Nabi Yusuf a.s. menjadi pejabat keuangan. Lalu, datanglah masa sulit sebagaimana mimpi yang ditafsirkan Yusuf. Orang mulai memburu bahan makanan dan berduyun-duyun datang ke gudang makanan yang disediakan kerajaan.

Tampak di antara mereka adalah saudara-saudara Yusuf a.s. Yusuf mengenal mereka, sedangkan mereka tidak mengenali Yusuf lagi. Mereka mengira Yusuf sudah lama meninggal dunia. Saat itu, Yusuf mendekati mereka dan bertanya “Kenapa saudara kalian yang kecil, yang bernama Bunyamin itu tidak ikut ke sini? Untuk besok, bawalah dia atau kalian tidak akan mendapatkan bahan makanan seperti hari ini.”

Nabi Yusuf a.s. Bertemu dengan Keluarganya

Para putra Ya’qub kini datang kembali ke kerajaan dengan membawa Bunyamin. Di tengah kesibukan menumpuk bahan makanan, Yusuf secara diam-diam menghampiri Bunyamin dan membisikinya, “Wahai Bunyamin, sesungguhnya aku adalah saudaramu, Yusuf. Allah telah melindungiku dan memberiku kekuatan. Nanti akan kususun rencana agar kamu tertinggal di kerajaan ini dan saudara-saudaramu biarkan pulang ke rumah.”

Yusuf kemudian secara sembunyi memasukkan gelas emas milik kerajaan ke dalam karung milik Bunyamin. Bunyamin kemudian dituduh mencuri dan ditahan sedangkan saudaranya yang lain dipersilakan pulang.

Sewaktu mengambil makanan berikutnya, Yusuf a.s. mempertemukan Bunyamin dengan saudara-saudaranya. Yusuf berkata, “Sadarkah kalian tentang perbuatan apa yang telah kalian lakukan kepada saudara kalian sendiri, Yusuf dan Bunyamin.”

Mereka sangat terkejut karena di hadapan mereka ternyata adalah Yusuf, yaitu adik mereka yang pernah mereka buang ke dalam sumur. Mereka mengakui kesalahan dan memohon maaf atas perbuatan mereka membuang Yusuf.

Setelah menanyakan keadaan ayahnya, Yusuf a.s. kemudian mengirim jubahnya supaya diusapkan ke wajah ayahnya sembari meminta agar ayahnya segera diajak menuju istana.

Ketika jubah Yusuf diusapkan ke wajah ayahnya bahagialah hati Ayah. Penglihatan ayahnya pun dengan izin Allah Swt. telah pulih kembali. Saudara-saudara Yusuf a.s. dan ayahnya segera berangkat menuju Mesir. Nabi Yusuf a.s. menyambut kedatangan keluarganya. Nabi Yusuf langsung duduk di samping ayahnya. Setelah selesai pertemuan, seluruh keluarga Yusuf diminta tinggal di istana.

B. KISAH KETELADANAN NABI SYU'AIB A.S.

Kesesatan Kaum Madyan

Nabi Syu’aib a.s. berasal dari suku Madyan. Nama lengkapnya Syu'aib bin Yasjur bin Madyan. Beliau masih keturunan Nabi Ibrahim. Allah mengutus Nabi Syu'aib untuk berdakwah di Madyan. Suku Madyan adalah orang-orang Arab yang tinggal di sebuah daerah bernama Ma’an di pinggiran negeri Syam (Syiria). Kaum Madyan, kebanyakan bekerja sebagai pedagang karena kota mereka tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang.

Kaum Madyan tidak beriman kepada Allah Swt. Mereka menyembah berhala berupa pohon besar yang disebut "al-aikah". Selain syirik, ada kebiasaan buruk yang suka dilakukan kaum Madyan yaitu suka berbuat curang. Mereka mengurangi takaran dan timbangan. Mereka juga melakukan berbagai macam tindak kejahatan, seperti mencuri, merampok dan membunuh. Allah Swt. mengutus Nabi Syu’aib a.s. untuk menyeru mereka supaya menyembah hanya kepada Allah Swt. dan meninggalkan semua bentuk kejahatan.

Nabi Syu'aib a.s. Melarang Kecurangan

Nabi Syu’aib a.s melarang mereka melakukan perbuatanperbuatan yang buruk. Nabi Syu’aib a.s mengajak orang-orang Madyan untuk berbuat adil dan jujur dalam berjual beli.

Nabi Syu’aib a.s. mengingatkan kaumnya pada kenikmatan yang mereka dapatkan agar mereka bersyukur. Namun, kaum Nabi Syu’aib a.s. tetap tidak mau mengikuti ajakannya.

Para tokoh Madyan justru membenci Nabi Syu'aib. Mereka ingin mengusir beliau dan para pengikutnya dari Madyan. Mereka bahkan mengancam akan menghukum Nabi Syu'aib.

Kebinasaan Kaum Madyan

Kaum Madyan benar-benar ingkar. Kebenaran telah ditolak dan mereka menantang ajakan Nabi Syu’aib a.s., sedangkan Nabi Syu’aib a.s. telah bersabar. Nabi Syu’aib a.s. merasa khawatir terhada kaumnya akan azab yang menimpa mereka.

Maka, Allah Swt. membinasakan kaum Madyan. Mereka disambar petir yang sangat keras disertai dengan gempa yang sangat kuat sehingga mati bergelimpangan. Kaum Madyan dibinasakan dan dijauhkan dari rahmat Allah Swt. karena menolak untuk beriman kepada Allah Swt.