Tema 10

Bersyukur

BERSYUKUR KEPADA ALLAH

1. Tujuan Pembelajaran:

  • Peserta didik dapat memahami nikmatnya sikap bersyukur.

  • Peserta didik dapat memahami contoh sikap bersyukur.

2. Materi Pembelajaran:

A. NIKMATNYA BERSYUKUR

Bersyukur adalah rasa berterima kasih kepada Allah.

Allah telah memberikan kasih sayang dan karunia kepada kita. Bersukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi dengan cara menggunakan nikmat tersebut untuk beribadah kepada Allah.

Kebalikan dari bersyukur adalah kufur nikmat. Kufur nikmat ialah tidak menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang didapatkan benar-benar dari Allah swt.

Allah berfirman dalam al Quran QS. Ibrahim ayat 7.

Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Bersyukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah. Bersyukur kepada Allah akan bertambah nikmatnya dan mengingkari nikmat Allah akan berkurang nikmatnya.

Apa makna dari ayat di atas?

  1. Manusia wajib bersyukur atas nikmat yang telah diterima.

  • jika manusia bersyukur, Allah akan melipatganndakan nikmatnya.

  • jika ia kaya dan bersyukur, Allah akan menambah kekayaannya.

  • jika ia pandai dan bersyukur, maka Allah akan menambah ilmunya.

  1. Manusia yang tidak bersyukur akan dihilangkan nikmatnya.

  • orang yang tidak bersyukur disebut kufur (ingkar bahwa dirinya telah mendapat nikmat dari Allah).

  • jika ia kaya atau pandai, maka ia tidak merasa kekayaannya atau kepandaiannya itu semua dari Allah. Ia merasa itu adalah berkat usahanya sendiri, itulah sifat kufur.

  • bersyukur merupakan ungkapan rasa terimakasih kepada Allah dengan cara menggunakan kenikmatan untuk kebaikan.

Berikut adalah contoh kenikmatan yang sudah kita terima dari Allah setiap hari:

  1. Kesehatan: badan sehat dan kuat.

  2. Keimanan: Allah memberikan petunjuk kepada kita.

  3. Kekayaan: rezeki harta dan benda.

  4. Kesempatan dan Waktu: umur panjang di dunia.

  5. Ilmu Pengetahuan: mengetahui dan mengerti banyak hal.

  6. Alam semesta: bumi dan isinya.

Manfaat bersyukur kepada Allah adalah sebagai berikut:

  1. Allah akan menambah nikmat kepada kita.

  2. Kita jauh dari sifat ingkar terhadap nikmat Allah.

  3. Allah akan selalu mengingat kita.

  4. Kita terhindar dari azab Allah.

  5. Kita selalu berbaik sangka kepada Allah dan sesama manusia.

  6. Kita terhindar dari sifat sombong.

  7. Hati kita menjadi lapang, tenang dan bahagia.

B. SIKAP BERSYUKUR

Semua yang kita miliki adalah berasal dari Allah. Kita harus bertanggung jawab atas pemberiannya dengan cara bersyukur.

Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai cara:

  • Jika diberi kesehatan, bersyukur dengan rajin beribadah.

  • Jika diberi badan sehat, bersyukur dengan rajin bekerja tidak boleh bermalas-malasan.

  • Jika diberi kekayaan, bersyukur dengan mengeluarkan zakat atau sedekah.

  • Jika diberi waktu atau umur panjang, bersyukur dengan amal kebaikan.

Jika memperoleh nikmat, yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Mengucapkan alhamdulillah sebagai rasa syukur kepada Allah.

  2. Berbuat yang leih baik

  3. Meninggalkan perbuatan yang buruk.

  4. Melakukan perbuatan yang baik kepada sesama.

  5. Bersedekah kepada orang lain yang tidak mendapatkan nikmat.

  6. Menggunakan nikmat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Contoh sikap kurang bersyukur:

Contoh sikap bersyukur:

KISAH SYUKUR DAN KUFUR

Alkisah, ada tiga orang dari Bani Israil yang berada di satu kota, dan saling mengenal satu sama lainnya. Masing-masing dari mereka mempunyai cacat di tubuhnya. Yang satu terkena lepra, yang kedua menjadi botak dan yang ketiga dalam keadaan buta. Di sisi lain, mereka juga diuji dengan kemiskinan tanpa mempunyai harta apapun.

Sebagaimana dijelaskan dalam Shahih Bukhari karya Imam Bukhari. Kitab Ahadisil Anbiya’, bab hadis tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di Bani Israil. Dari Abu Hurairah yang pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda; β€œSesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka Malaikat.” Ini untuk menguji apakah mereka bersyukur atau kufur atas nikmat Allah Swt.

Malaikat tersebut pertama kali mendatangi orang yang menderita lepra. Kemudian bertanya kepadanya, β€œApa sesuatu yang paling kau inginkan?” Penderita lepra lalu menjawab, β€œRupa yang elok, kulit yang indah dan segala yang menjijikkan orang-orang, hilang dari tubuhku.” Diusaplah penderita lepra tersebut oleh Malaikat, dan hilanglah penyakit yang dideritanya. Wajahnya berubah menjadi elok dengan kulit yang indah. Sang Malaikat lalu bertanya kembali β€œkekayaan apa yang paling kau sukai?” Ia menjawab, β€œUnta atau sapi.” kemudian diberilah seekor unta yang sedang bunting, dan didoakan oleh Malaikat, β€œSemoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

Setelah itu, Malaikat mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya, β€œApa sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, β€œRambut yang indah, dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.” Diusaplah kepalanya, dan hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat pun bertanya kepadanya, β€œKekayaan apa yang paling kau senangi?” Jawabnya, β€œSapi atau unta.” Ia kemudian diberi seekor sapi bunting dan didoakan, β€œSemoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.”

Malaikat kemudian mendatangi satu orang lagi yang buta. Ia bertanya kepadanya, β€œApa sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, β€œSemoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat orang-orang.” Diusaplah wajahnya, dan saat itu juga penglihatannya kembali. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, β€œLalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, β€œKambing.” Ia kemudian diberi seekor kambing bunting.

Waktu terus berjalan. Berkembang biaklah unta, sapi dan kambing yang diberikan kepada ketiga orang tersebut. Hingga orang pertama mempunyai selembah unta, orang kedua mempunyai selembah sapi, dan orang ketiga mempunyai selembah kambing.

Malaikat kemudian kembali datang kepada orang yang sebelumnya menderita lepra, dengan menyerupai dirinya. Dia meminta bantuan dan berkata, β€œAku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku untuk mencari rizki dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalanan hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Orang yang tadinya berpenyakit lepra itu menjawab, β€œTanggunganku banyak.” Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya, β€œSepertinya aku mengenal anda. Bukankah anda ini yang dulu menderita lepra, orang jijik kepada anda, dan miskin. lalu Allah memberi Anda kekayaan?” Dia malah menjawab, β€œSungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Malaikat kemudian berkata kepadanya, β€œJika anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”

Malaikat kemudian mendatangi orang yang sebelumnya botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata seperti yang dikatakan kepada yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolak sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama. Malaikat kemudian berkata, β€œJika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan semula.”

Setelah itu, Malaikat mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula dan berkata kepadanya, β€œAku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku untuk mencari rizki dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Orang yang asalnya buta itu menjawab, β€œSungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang anda sukai dan tinggalkan apa yang anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.” Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata,”Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.” Kedua temannya pun kembali seperti semula, menjadi cacat dan miskin.

Laki-laki yang asalnya lepra dan botak, mengingkari nikmat Allah Swt atas apa yang diberikan kepadanya. Dia pelit, tidak mau memberi kepada orang yang tertimpa penyakit seperti yang pernah menimpanya dulu. Adapun si buta, dia pemilik jiwa yang bersih, dia teringat keadaannya semasa masih buta dan miskin, kemudian diberi harta oleh Allah Swt. Bahkan si buta tidak hanya memberi satu ekor kambing, tetapi memberi pilihan kepada peminta untuk mengambil atau membiarkan sesukanya.

Allah Swt menguji para hamba-Nya agar terlihat mana yang bersyukur, dan mana yang kufur atas nikmat Allah Swt. Mana yang baik dan mana yang busuk. Dan di antara bentuk syukur adalah mendermakan sebagian harta kepada yang berhak. Dan di antara bentuk kufur nikmat adalah kikir, tidak memberikan harta kepada fakir miskin yang berhak menerima.

Tentu saja jika Allah Swt memberkahi harta seseorang, maka ia akan tumbuh dan berkembang. Ia menjadi harta yang melimpah ruah. Dan harta yang melimpah, bisa binasa dan lenyap dalam waktu yang singkat, jika Allah Swt berkehendak.

Banyaknya harta bukanlah bukti kecintaan Allah kepada seorang hamba. Justru Allah Swt sedang mengujinya. Banyak orang yang diuji oleh Allah Swt dengan penyakit atau kemiskinan. Sehingga mereka merindukan terbebas dari itu semua, dan sebagian dari mereka memperoleh yang diimpikannya. Sehingga Allah Swt mengganti penyakit dengan kesehatan dan keselamatan, kemiskinan dengan kekayaan.

Namun di antara mereka, ada yang melupakan musibah dan keadaan yang pernah menimpanya. Mereka kufur kepada Allah Swt atas nikmat-Nya. Bahkan mereka tidak mau merasakan penderitaan orang lain, padahal dahulu pernah merasakannya. Sehingga ketika menjadi sukses, jangan sampai sombong dan lupa bahwa kita pernah berada di fase tidak bisa apa-apa dan ditolong oleh orang lain.