Tema 10

KISAH KETELADANAN WALI SONGO

WALI SONGO

1. TUJUAN PEMBELAJARAN

  • Peserta didik mampu memahami kisah keteladanan wali songo

  • Peserta didik mampu menceritakan kisah keteladanan wali songo

2. MATERI PEMBELAJARAN

1) Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

2) Sunan Ampel (Raden Rahmat)

3) Sunan Giri (Raden Paku)

4) Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim)

5) Sunan Kalijaga (Raden Said)

6) Sunan Drajat (Raden Qasim)

7) Sunan Muria (Raden Umar Said)

8) Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)

9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

1. Sunan Gresik

A. Riwayat Hidup

Maulana Malik Ibrahim merupakan putra dari syekh Jumadil Kubra. Beliau disebut juga dengan nama Sunan Gresik, Sunan Tandhes, Sunan Raja Wali. Beliau datang di pulau Jawa tahun 1404 M. dan wafat tanggal 04 April 1419 M. Makamnya di desa Gapura, Gresik Jawa Timur. Beliau dikenal Sebagai tokoh terhormat yang mempunyai kedudukan sebagai:

1) guru kebanggaan para pangeran;

2) penasehat raja dan menteri;

3) dermawan kepada fakir miskin;

B. Usaha Dakwah

Daerah yang dituju pertama kali oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim saat mendarat di Jawa adalah desa Sembalo Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Lalu ia mulai menyiarkan agama Islam dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Manyar. Aktivitias yang mula-mula dilakukan adalah berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan.

Setelah merasa dakwahnya berhasil di Desa Sembalo, Maulana Malik Ibrahim pindah ke Kota Gresik tinggal di Desa Sawo. Setelah itu, beliau datang ke Kutaraja Majapahit untuk menghadap raja dan mendakwahkan Islam kepada raja. Namun, raja belum mau masuk Islam tetapi menerimanya dan memberikan sebidang tanah di pinggiran Kota Gresik yang kemudian dikenal dengan Desa Gapura.

Di Desa Gapura itulah Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren untuk mendidik kader-kader pemimpin umat dan penyebar Islam yang diharapkan dapat melanjutkan misinya menyampaikan kebenaran Islam kepada masyarakat di wilayah Majapahit. Beliau juga merupakan perintis kerajaan Islam di Jawa saat awal keruntuhan Majapahit.

Beliau berdakwah dengan cara memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, yakni membuka warung dan melayani pengobatan terhadap berbagai penyakit yang mewabah.

2. Sunan Ampel

A. Riwayat Hidup

Nama aslinya Raden Rahmat. Lahir pada 1401 M. dan wafat pada 1478 M. Putra dari Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Condrowulan. Nama Ampel diambil dari nama tempat beliau lama bermukim, yakni daerah Ampel Denta, Surabaya.

B. Usaha Dakwah

Sunan Ampel dikenal sebagai salah seorang wali yang berjuang menegakkan Agama Islam. Jasanya sangat besar dalam menggelorakan dakwah di tanah Jawa. Dari tangan beliaulah muncul kader-kader ulama dan para pemimpin Islam yang tangguh.

Usaha-usaha dakwah Sunan Ampel antara lain:

  1. Beliau adalah pelanjut cita-cita perjuangan Syekh Maulana Malik Ibrahim,

  2. Mendirikan pesantren di Ampel Denta untuk mempersiapkan para ulama, Dai dan para pemimpin Islam,

  3. Mencetuskan ide untuk mendirikan kerajaan Islam Demak,

  4. Berperan mendirikan Masjid Agung Demak,

  5. Membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit. Dengan cara itu kekeluargaan di antara umat islam menjadi kuat,

  6. Menyerukan dakwah kebenaran Islam kepada para penguasa dengan cara bijak, kelembutan hati, dan sikap yang ramah. Meskipun raja Majapahit tidak bersedia masuk Islam, Raja Majapahit tetap memberi keleluasaan kepada Sunan Ampel untuk berdakwah di Kerajaan Majapahit,

  7. Membuat rumusan istilah “emoh limo” yaitu ungkapan singkat untuk menentang lima perbuatan yang diharamkan dalam Islam, yakni:

  • 1) main (judi)

  • 2) mendem (minuman keras)

  • 3) maling (mencuri)

  • 4) madat (menghisap candu)

  • 5) madon (berbuat zina).

3. Sunan Giri

A. Riwayat Hidup

Bernama Raden Paku atau Joko Samudro. Kelahiran Blambangan Banyuwangi, Jawa Timur. Sunan Giri hidup pada tahun 1442 – 1506 M. Beliau adalah putra dari Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu. Anak angkat dari Nyai Pinatih, janda kaya raya di Gresik. Beliau tinggal di Giri. Makam beliau berada di Bukit Giri Gajah, Dusun Kedaton, Gresik, Jawa Timur. diambil dari nama tempat beliau lama bermukim, yakni daerah Ampel Denta, Surabaya.

B. Usaha Dakwah

Sunan Giri dikenal sebagai ahli negara di antara para Wali Sanga. Mendirikan pondok pesantren di Giri yang berperan besar sebagai pengawal dakwah Islam di wilayah Jawa Timur dan Nusantara Timur, bahkan sampai Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal adalah Sunan Giri Prapen yang menyebarkan agama Islam di wilayah Lombok dan Bima, Nusa Tenggara Barat.

Usaha-usaha dakwah yang dilakukan antara lain:

  1. Mendirikan pesantren sebagai pusat penyebaran ilmu dan pengkaderan da’i,

  2. Menciptakan berbagai jenis permainan anak-anak, seperti jelungan, jamuran, gendi gerit dan tembang-tembang permainan anak, seperti “Padang Bulan”, “Jor”, “Gula Ganti”, dan “Cublak-Cublak Suweng”,

  3. Mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran Islam dengan empat mata setelah memungkinkan dikumpulkan dalam acara keramaian, misalnya, selamatan atau upacara-upacara yang dimasukkan ajaran Islam,

  4. Mengarang lakon-lakon wayang dan suluknya.

4. Sunan Bonang

A. Riwayat Hidup

Bernama Raden Makhdum Ibrahim, hidup pada tahun 1465 – 1525 M. Putra ke 4 Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila. Belajar Islam dari pesantren ayahnya di Ampel Denta dan juga pernah belajar kepada Syekh Maulana Ishaq bersama Sunan Giri. Setelah dewasa, berkelana berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Beliau berdakwah melalui seni sastra dan bahasa. Diantara perannya adalah sebagai penggubah “Suluk Wijil” dan tembang “Tombo Ati”. Beliau dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur. Meninggalkan tulisan tangan berupa tafsir Al-Qur’an juz 15 – 30.

B. Usaha Dakwah

Sunan Bonang banyak berdakwah melalui seni sastra dan bahasa untuk menarik penduduk jawa agar memeluk agama Islam. Gerakan dakwahnya antara lain:

  1. Berdakwah melalui pendekatan yang lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat seni dan budaya. Menjadi dalang yang memainkan wayang, juga piawai menggubah tembang-tembang macapat,

  2. Untuk menarik masyarakat, salah satunya digunakan perangkat gamelan Jawa yang disebut bonang,

  3. Karyanya tembang macapat “Kidung Bonang”,

  4. Penyebar Islam yang ulet dan tangguh yang selalu memanfaatkan peluang untuk mengajak orang-orang menjadi muslim.

5. Sunan Kalijaga

A. Riwayat Hidup

Bernama Raden Sa’id, lahir di Tuban Putra dari Raden Sahur Tumengung Wilatikta, Bupati Tuban. Kelebihannya: cerdas, terampil, pemberani, berjiwa besar, dan memiliki kepedulian besar terhadap sesama. Berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati. Ahli ilmu tauhid, imu syariat, dan menguasai perjuangan dakwah Islam, dan ahli sastra sehingga terkenal sebagi pujangga dengan syair-syair yang indah dalam bahasa Jawa. Jasanya: mendirikan Masjid Agung Demak dengan soko tatalnya, kesenian "wayang kulit" dengan gamelannya, menggubah lagu “Ilir-Ilir” dan “Gundul-Gundul Pacul”. Wafat di desa Kadilangu.

B. Usaha Dakwah

Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh wali yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga juga suka menyamar dan bertindak menampilkan kelemahan diri untuk menyembunyikan kelebihan yang dimilikinya. Bidang dakwahnya terkenal paling luas cakupannya dan paling besar pengaruhnya di kalangan masyarakat.

Diantara usaha dakwahnya antara lain:

  1. Berdakwah melalui kesenian wayang atau mengenalkan Islam melalui pertunjukan wayang dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain,

  2. Masyarakat yang ingin nanggap wayang, bayarannya bukan berupa uang melainkan cukup membaca dua kalimat syahadat sehingga dengan cara itu Islam berkembang dengan pesat,

  3. Paling luas cakupan dakwahnya dan paling besar pengaruhnya di kalangan masyarakat sebab memiliki peran sebagai:

  • 1) dalang

  • 2) penggubah tembang

  • 3) pendongeng keliling

  • 4) desainer pakaian

  • 5) perancang alat-alat pertanian

  • 6) penasehat sultan, dan

  • 7) guru rohani.

6. Sunan Drajat

A. Riwayat Hidup

Sunan Drajat lahir dengan nama Raden Qasim. Hidup pada tahun 1470 M – 1522 M. Beliau merupakan putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, adik Sunan Bonang. Di awal, Sunan Drajat belajar ilmu kepada ayahnya sendiri. Lalu Sunan Ampel mengirimnya untuk belajar kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon. Makamnya di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

B. Usaha Dakwah

Sunan Drajat dikenal sebagai penyebar Islam yang berjiwa sosial tinggi dan sangat memerhatikan nasib kaum fakir miskin serta lebih mengutamakan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Setelah memberi perhatian penuh, kemudian Sunan Drajat memberikan pemahaman ajaran Islam. Usaha dakwah yang dilakukan antara lain:

  1. Menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmura masyarakat sebagai pengamalan ajaran Islam,

  2. Karyanya tembang “Macapat pangkur”, Gamelan Singomengkok,

  3. Mengajarkan tata cara membangun rumah, dan membuat alat-alat untuk memikul orang, seperti tandu dan joli.

  4. Berdakwah menggunakan tujuh dasar ajaran dalam kehidupan, antara lain:

1) Selalu membuat senang hati orang

2) Dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Allah dan selalu waspada

3) Dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan

4) Senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi

5) Dalam diam dicapai keheningan dan di dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia

6) Pencapaian kemuliaan lahir bathin dicapai dengan menjalani salat lima waktu

7) Berikan tongkat kepada orang buta!

Berikan makan kepada orang lapar!

Berikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian!

Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan!

7. Sunan Muria

A. Riwayat Hidup

Sunan Muria lahir dengan nama Umar Sa’id. Beliau adalah putra Sunan Kali Jaga dan Dewi Sarah. Makamnya di puncak bukit lereng Gunung Muria, Kecamatan Colo, Kudus.

B. Usaha Dakwah

Gaya dakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, tetapi lebih suka tinggal di daerah yang sangat terpencil. Usaha dakwahnya antara lain:

  1. Bergaul dengan rakyat jelata sambil mengajarkan bercocok tanam, berdagang dan melaut,

  2. Mampu memecahkan masalah yang sangat rumit dan pemecahannya selalu dapat diterima oleh semua pihak,

  3. Karyanya: tembang Sinom dan Kinanti.

8. Sunan Kudus

A. Riwayat Hidup

Sunan Kudus lahir bernama Jakfar Shadiq, Putra Raden Usman Haji (Sunan Ngudung) dengan Nyai Anom Manyuran. Beliau belajar kepada ayahnya, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Sunan Kudus diberi gelar “Waliyul Ilmi” (penguasa ilmu), menguasai ilmu dalam Islam: tauhid, us]ul fiqh, fiqh, hadis, tafsir dan sastra. Beliau juga dikenal sebagai senopati (panglima perang) Kesultanan Demak, penasehat sultan dan hakim negara. Sunan Kudus juga mengetahui ilmu militer dan siasat perang. Peninggalangannya yang sampai saat ini bediri kokoh yakni Masjid Agung Kudus dan Menara Kudus. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di bagian belakang kompleks Masjid Agung Kudus.

B. Usaha Dakwah

Sunan Kudus dikenal sebagai Wali Sanga yang tegas dalam menegakkan syariat Islam. Namun seperti wali yang lain, beliau berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami apa yang diharapkan masyarakat. Selain itu Sunan Kudus juga melakukan usaha dakwah antara lain:

  1. Menggunakan jalur seni, budaya, dan teknologi terapan yang bersifat tepat guna, seperti menyempurnakam alat-alat pertukangan, menyempurnakan perkakas pandai besi, serta membuat keris pusaka dan sejenisnya,

  2. Memadukan antara bentuk bangunan yang berciri khas arsitektur Islam dan Hindu yang dibuktikan melalui bangunan Menara Kudus dan lawang kembar Masjid Kudus,

  3. Memadukan unsur Islam dan unsur lokal. Tampak pada cerita legenda yang mengaitkan tokoh Sunan Kudus dengan pelarangan masyarakat untuk menyembelih dan memakan daging sapi, hewan yang di hormati oleh orang-orang Hindu,

  4. Dalam dakwahnya diberi tugas memberi bimbingan dan keteladanan kepada masyarakat.

9. Sunan Gunung Jati

A. Riwayat Hidup

Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah. Beliau hidup pada tahun 1558-1568 M. Sunan gunung Jati adalah putra Syarif Abdullah dan Nyai Rara Sentang. Beliau belajar secara mendalam di Makkah dan belajar ilmu tasawuf di Baghdad (Irak). Makam Sunan Gunung Jati terletak di Gunung Sembung, desa Astana, Cirebon.

B. Usaha Dakwah

Strategi dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati adalah memperkuat kedudukan politis sekaligus memperluas hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon, Banten dan Demak. Usaha dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati antara lain:

  1. Mendirikan pondok pesantren dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitar,

  2. Melalui pernikahan, memperkuat kedudukan dan memperluas hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon,

  3. Menggalang kekuatan para tokoh yang dikenal memiliki kesaktian dan kekuatan politik serta kekuatan senjata.