Tema 8

SIKAP TERPUJI

SIKAP TERPUJI

Tujuan Pembelajaran

  • Peserta didik memahami makna sikap terpuji pantang menyerah

  • Peserta didik mampu menerapkan sikap terpuji pantang menyerah dalam kehidupan sehari-hari

  • Peserta didik memahami makna sikap terpuji rendah hati

  • Peserta didik mampu menerapkan sikap terpuji rendah hati dalam kehidupan sehari-hari

Materi Pembelajaran

A. Pantang Menyerah

B. Rendah Hati

A. Pantang Menyerah

Pantang Menyerah untuk pergi ke sekolah

Anak-Anak, dalam belajar pasti pernah menjumpai kesulitan untuk memahami apa yang kalian pelajari. Dalam bermain bersama teman-teman, pasti pernah mendapatkan tantangan agar bisa menang. Dalam beribadah pasti pernah mengalami rintangan untuk selalu istiqāmah mengerjakannya.

Apa yang kamu lakukan dalam menghadapinya?

Jika mundur dan menyerah, nilai terbaik tak pernah kalian dapatkan. Jika putus asa, pasti kalian akan kalah.

Untuk menghadapi kesulitan, tantangan, dan rintangan dibutuhkan sikap pantang menyerah dan tidak putus asa.

Berusahalah terus dengan bersungguh-sungguh, insyaallah pasti kemudahan dan keberhasilan akan kalian raih. Yakinlah! Sesungguhnya dalam kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sebagaimana firman Allah Swt. :

“Si Anak Batu”

Namanya Syihabuddin, ia seorang anak yatim karena ditinggal ayahnya ketika berumur 4 tahun. Ketika masih belajar, ia dikenal sebagai murid yang rajin, tetapi sangat sulit untuk menyerap pelajaran. Bahkan ia sering lupa dengan pelajaran-pelajaran dari gurunya. Inilah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

Ia pun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolah. Di tengah perjalanan pulang, hujan turun sangat lebat dan memaksa dirinya untuk berteduh di dalam gua. Ketika di dalam gua pandangannya tertuju pada tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu. Melihat batu yang berlubang tersebut, akhirnya Ibnu Hajar merenung. Ia berpikir, batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air, apalagi kepala saya pasti bisa menyerap semua pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan dan sabar.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh, lalu ia kembali ke sekolah dan menemui gurunya. Ia menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangatnya yang tinggi, gurunya menerima kembali untuk menjadi murid di sekolah itu. Perubahan besar terjadi, ia sekarang tumbuh menjadi murid yang cerdas dan mudah menguasai pelajaran. Akhirnya ia mampu mengarang kitab yang sangat berguna bagi umat, terutama tentang hadis.

Kesimpulan

  1. Pantang menyerah artinya tidak mudah menyerah.

  2. Menyerah sama halnya dengan putus asa.

  3. Lawan kata Pantang Menyerah adalah Putus asa.

  4. Allah tidak suka kepada hambanya yang mudah putus asa, oleh karena itu kita harus selalu bersemangat.

  5. Kita harus semangat meraih cita-cita.

  6. Segala rintangan dihadapi, setiap masalah diselesaikan.

  7. Cara memiliki sikap Pantang Menyerah dengan meneladani sikap para Rasul Ulul ‘Azmi.

  8. Rasul Ulul Azmi ada 5: Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., Isa a.s., dan Muhammad saw.

  9. Rasul Ulul Azmi ketika mendapatkan tantangan dan ancaman dari umatnya, mereka tetap berdakwah dan pantang menyerah.

  10. Dalam usahanya mereka selalu berdoa memohon pertolongan kepada Allah sehingga berhasil.


وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”(Q.S. Yusuf : 87).

B. Rendah Hati

Rendah hati dikenal dengan tawaduk. Seseorang yang tawaduk melihat orang lain lebih baik dari dirinya.

Orang yang rendah hati karena Allah tidak akan menjadi hina, bahkan ia akan menjadi mulia di hadapan Allah dan manusia, sebagaimana Rasulullah bersabda:

Setiap orang tak ada yang sempurna. Semua mempunyai kelebihan sekaligus kekurangan. Oleh karena itu tidak pantas jika ada orang yang merasa lebih baik atau lebih unggul dari yang lain.

Anak-Anak harus berusaha memiliki sifat rendah hati. usaha tersebut, misalnya menyadari bahwa kelebihan yang kamu miliki merupakan pemberian Allah Swt. bukan keunggulanmu. Oleh karena itu, setiap kamu diberi anugerah, maka pujilah Allah! Jangan membanggakan dirimu sendiri!

ilustrasi sikap rendah hati/tawaduk

Kesimpulan

  1. Rendah hati artinya tidak sombong, tidak merasa dirinya lebih baik, tidak menganggap dirinya lebih pintar.

  2. Jika seseorang rendah hati, maka ia akan selalu menghargai orang lain dan menganggap dirinya sama dengan yang lain.

  3. Rendah hati disebut juga tawaduk.

  4. Orang tawaduk tidak pernah merendahkan orang lain.

  5. Orang rendah hati dilarang sombong


وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

  • Manusia dilarang sombong, karena kehebatan manusia tidak ada apa-apanya jika dibanding kekuasaan Allah.

  1. Ciri-ciri Rendah hati:

a. Selalu menghormati orang lain

  • menghormati artinya menghargai, menganggap sama dan tidak merendahkan.

  • kepada siapapun harus selalu menghormati.

  • Mau berteman kepada siapapun tanpa membeda-bedakan, selama tujuannya untuk kebaikan.

  • Jika bertemu siapa saja, harus menyapa dengan sopan, mengucap salam, dan juga tersenyum.

b. Senang berbuat kebaikan

  • Orang rendah hati suka membantu dan meringankan beban orang lain.

  • Berbuat baik kepada siapa saja dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan.

  • Jika ada teman yang kesusahan segera membantu agar segera teratasi masalahnya.

  • Jika ada teman yang sakit segera menjenguknya atau mendoakannya agar segera sembuh.

c. Tidak sombong

  • Sombong adalah perbuatan tercela.

  • Orang sombong selalu membanggakan dirinya, merasa lebih hebat dari orang lain.

  • Kelebihan yang kita miliki harus disyukuri.

  • Jika kita pandai, maka bisa mengajari yang lain.

  • Jika kita kaya, maka bisa berbagi kepada yang membutuhkan.

d. Suka memaafkan

  • Jika ada teman yang salah kita tidak boleh dendam atau benci kepadanya, lebih baik memaafkannya.

  • Saikap pemaaf membuat bahagia. Membuat hati bersih dari iri dan dengki, terhindar dari permusuhan.

  • Jadilah pemaaf bagi siapa saja, karena Allah juga Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun (Q.S. Al-Hajj ayat 60).

إِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun

Gemar Membaca

  1. Gemar artinya suka, Membaca artinya melihat dan memahami apa yang tertulis.

  2. Alquran mengajarkan kita untuk gemar membaca.

  3. Kalimat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah kalimat “ iqra’ ” yang memiliki arti “ bacalah

  4. Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali di Gua Hira’ Surah al-’Alaq ayat 1-5

  5. Buku adalah jendela dunia, artinya dengan membaca buku maka kita membuka dunia.

  6. Kita bisa mengetahui tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan rajin membaca.

  7. Manfaat Membaca:

  • menambah pengetahuan

  • memperbanyak ide

  • menjadikan pintar dan bermanfaat

Hemat

  1. Hemat artinya mengatur sesuatu atas dasar kesederhanaan.

  2. Hemat berbeda dengan kikir atau pelit.

  3. Orang kikir tidak mau bersedekah, biasanya ia akan menumpuk harta untuk kepentingan sendiri.

  4. Hemat kebalikan dari boros.

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. Al-Isra’ 27)

  1. Cara Hemat:

  • Mendahulukan kebutuhan primer (pokok) atau yang penting.

  • Jika ada kelebihan rezeki harus ditabung.

  • Orang hemat tidak suka berlebihan atau Tabzir.

  • Tabzir artinya membeli sesuatu yang tidak bermanfaat.

  • Hemat buakn hanya dalam uang, tetapi waktu dan tenaga.

  • Hemat waktu berarti tidak boleh membuang-buang waktu, harus menggunakan waktu untuk yang bermanfaat.

  • Hemat tenaga berarti harus mengerjakan sesuatu secepatnya jangan menunda-nunda.

  1. Keuntungan Hemat:

  • Hidup dalam kesederhanaan

  • Terhindar dari sikap boros dan perilaku Tabzir

  • Bijaksana dalam mengatur keuangan.

  • Tidak pernah menyia-nyiakan waktu.

  • Memilih sesuatu yang bermanfaat.